Pulau Batam yang dikembangkan sebagai kota industri, perdagangan, alih-kapal, dan pariwisata -sejak lebih dari empat dekade lalu, telah berkembang demikian pesatnya, jauh meninggalkan kota-kota lain di sekitaran Provinsi Kepulauan Riau, bahkan banyak kota lain di Sumatera khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Hal itu mudah diketahui -dari indikator pertumbuhan ekonomi, yang rata-rata diatas lima sampai tujuh persen. Pertumbuhan ekonomi saja, tentu tidak cukup menjamin kehidupan warganya menjadi sejahtera. Dibutuhkan upaya pemerataan kesempatan, dan tentu saja penyeimbang, berupa kehidupan sosial-keberagamaan yang terbina dengan baik.

Kesibukan seharian pagi hingga sore hari, maka di senja hingga larut malam, akan berganti dengan temaramnya lampu-lampu mercury di jalan-jalan kota, juga lampu-lampu TL dan lampu LED di daerah industri -yang terus menjalankan produksinya 24 jam sehari. Setiap hari kerja dan waktu sekolah, kemacetan kendaraan di beberapa ruas dan persimpangan jalan, kerap terjadi dan sudah menjadi pemandangan yang biasa.

Pusat-pusat perbelanjaan semakin ramai di malam hari. Cafe di mall dan ruko, dan tempat jajanan kuliner di sudut-sudut kota. Taman kota, dan tempat hiburan yang seakan menjamur -menawarkan pilihan kepada masyarakat tempatan, pendatang, dan tentu para wisatawan -untuk sekedar melepas lelah, berbelanja, bersantap, dan melewatkan malam.

Kehadiran Masjid Jabal Arafah di pusat bisnis Batam -sejak empat tahun lalu, telah memberi nuansa baru bagi kota Batam, utamanya di pusat bisnis Lubuk Baja -atau lebih dikenal sebagai daerah Nagoya. Masjid yang dibuka 24 jam sehari sepanjang tahun -dengan segala fasilitas dan sarana pendukung yang ada, lampu-lampunya dinyalakan sejak sore hingga larut malam dan berlanjut hingga fajar pagi menjelang.

Hal itu telah menawarkan kepada warga masyarakat Batam, suatu cara menghabiskan waktu jelang Magrib, senja hingga malam, bahkan dapat berlanjut hingga datangnya panggilan waktu shalat Subuh berjamaah, dan pengajian yang rutin diadakan.